Di tengah-tengah fenomena VLOG yang lagi booming, gue malah tetep milih nulis untuk menyampaikan sesuatu.
Padahal bisa dibilang jaman sekarang ini adalah jaman dimana kombinasi audio
dan visual lebih mudah menarik atensi orang-orang, apalagi didukung koneksi
internet yang makin mudah didapatkan. Mulai dari paketan kuota murah
bergiga-giga sampe spot WIFI gratis
atau berbayar yang makin menjamur. Dengan memanfaatkan hal itu orang-orang bisa
mengakses segala sesuatu di dunia maya dan tentu, Youtube, portal berbagi video yang sekarang lagi happening banget di kalangan millenials.
Mencoba gak munafik, gue juga salah satu
penikmat video-video di-Youtube.
Mulai dari yang mengedukasi sampe cuman daily
VLOG gak jelas. Tapi gue merasakan perbedaan yang signifikan mengenai
pengalaman gue mantengin Youtube dari
dulu hingga sekarang. Dulu, ketika akses internet masih cukup mahal (buat gue
pribadi), nonton video di-Youtube
adalah salah satu kemewahan tersendiri. Gue rela begadang cuman buat nungguin
paket kuota malem aktif lalu mantengin beberapa video dari channel Youtube favorit
gue. Pada waktu itu gue harus berhati-hati, gak boleh sampe terlalu asik karena
kalo hal itu terjadi maka kuota gue bakalan abis dan itu artinya sebulan ke
depan HP gue gak bakalan terkoneksi ke internet.
Semua berubah ketika gue kerja di
warnet, ya, gue seorang OP di warnet punya temen, itung-itung nambah uang jajan
sembari ngelarin skripsi. Ketika gue menjabat sebagai OP, pengalaman gue
menyambangi Youtube berubah. Awalnya
sih menarik, tapi lama-kelamaan semua makin membosankan. Kenapa gitu? Karena
hampir setiap hari gue bisa akses itu website, mantengin puluhan atau mungkin
ratusan video dari yang jelas sampe yang absurd
tanpa harus khawatir akan paketan internet gue.
Youtube
not interesting anymore for me.
Bahkan saking bosennya gue pernah
mantengin tutorial make up yang
notabene membuat kemaskulinan gue dipertanyakan. Kenapa gitu? Karena gue gak
tau lagi mau nonton apaan!!
Kan
banyak situs-situs streaming film masbro?
Emang iya, tapi gue bukan orang yang
betah marathon film kecuali film tersebut emang film yang gue tunggu-tunggu. Pernah sekali pas lagi bosen gue
paksain nonton film dan berakhir
dengan gue yang ketiduran lalu uang shift
jaga gue minus sehingga gue harus nombok pake uang sendiri. Brengsek kan?
Kenapa Youtube mulai membosankan? Bukan karena konten-konten yang
ngebosenin atau jelek, Enggak. Setiap channel
punya karakternya masing-masing, yah walaupun gue gak tau kalo daily VLOG itu termasuk karakter atau enggak, tapi gapapa, i don’t give a fuck about that.
Semua orang bebas mau bikin apa di Youtube begitu juga sebaliknya semua
orang bebas mau milih bakal nonton apa di Youtube
dan gue rasa semua orang juga bebas ingin berkomentar apa tentang Youtube. Adil kan? Tiap pihak punya
kebebasannya sendiri.
Mungkin rasa bosan akan Youtube muncul dari dalem diri gue
sendiri. Ya, gue kehilangan sesuatu, ekslusifitas. Penulisannya bener gak sih?
Bodo ah. Youtube gak lagi ekslusif
buat gue, semenjak jadi OP Youtube terlalu
‘murah’ terlalu gampang diakses sehingga seiring berjalannya waktu nilai
kepuasannya berkurang. Berbeda ketika gue masih rela begadang nungguin paketan
malem, Youtube begitu menarik karena
berbagai macam halangan yang harus gue lewatin sebelum bisa mengakses portal
berbagi video terbesar itu, butuh perjuangan lebih.
Ke-eksklusif-an emang salah satu nilai
jual yang cukup penting. Ketika kita kesulitan mendapatkan sesuatu maka
keinginan tersebut justru semakin besar dan keinginan tersebut bisa
dimanfaatkan untuk mendatangkan untuk mendatangkan pundi-pundi rupiah.
Orang-orang punya kebanggaan sendiri ketika mendapatkan sesuatu yang eksklusif
bahkan rela membayar lebih supaya mereka kelihatan lebih superior atau lebih beda aja dari yang lain. CD game limited edition, sepatu limited edition, penumbuh bulu limited edition, embel-embel ‘limited edition’ biasanya mampu menarik
perhatian orang-orang tertentu. Kenapa? Karena barang tersebut susah di dapet
dan gak semua orang bakal punya hal tersebut membuat kalian merasa ‘beda’ dari
yang lain, dan beberapa orang suka itu bahkan sampe rela merogoh kocek lebih
dalam.
Salah satu contoh mereka yang ‘menjual’
eksklusifitas adalah Girlband, oke
mungkin bukan girlband (takut di-bully masbro~), salah satu idol group yang terkenal di indonesia,
JKT48, mungkin bukan salah satunya, tapi satu-satunya, gak tau dah, gue gak
tercelup terlalu dalam.
Grup ini menerapkan sistem yang berbeda
dengan grup-grup lain yang sejenis. Wajar kalo ketika kita ketemu sama sosok public figure atau selebritis di jalan,
kita bakalan minta foto ataupun sekedar tanda tangan sebagai kenang-kenangan,
gue rasa sih wajar dan disitulah perbedaannya. Grup ini tidak memperbolehkan
para anggotanya untuk sembarangan membubuhkan tanda tangan atau sekedar foto
bareng dengan para fans mereka ketika
berada di publik. Para fans pun
dihimbau agar tidak melakukan hal tersebut, jikapun ada mungkin member yang bersangkutan akan menolak
dengan halus. Untuk mendapatkan keistimewaan tersebut para fans harus membayar sejumlah uang agar mereka bisa berfoto dengan member favorit mereka, tentu aja
bayarnya ke pihak manajemen dan ada tempat resmi untuk melakukan hal tersebut.
Bahkan untuk bercengkrama atau sekedar salaman para fans juga harus dilakukan pada event
tertentu, dengan merogoh kocek tentunya.
Apa
ada yang kecewa atau marah?
Tentu, tapi hanya segelintir dan
lama-kelamaan mereka sadar, toh memang dari awal grup tersebut dibentuk untuk
jadi seperti itu.
Emang
ada orang yang mau ngeluarin duit cuman untuk foto atau salaman?
Jelas ada lah, sistem ini secara gak
langsung menciptakan sebuah hirarki dalam kelompok fans. Beberapa merasa lebih dekat, lebih superior hanya karena mereka merogoh kocek lebih dalam, melakukan
sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh sesama fans dan beberapa orang senang akan hal itu. Tentu aja ada benefit
lain yang didapatkan oleh orang-orang ini, jelas mereka lebih dikenal karena
sering foto atau sering hadir di event-event, yang mungkin merupakan
tujuan atau hanya sekedar kepuasan tersendiri bagi orang tersebut. Sebuah privilage yang gak semua fans bisa dapetin.
Terus
solusinya gimana?
Solusi? Emang ini masalah? Ya enggaklah,
kan emang dari awal strategi bisnis mereka kayak gitu, menjual ekslusifitas,
jangan baperan aja jadi orang.
Yah, itulah mungkin pandangan gue
tentang gimana ke-ekslusif-an bisa berpengaruh besar terhadap ketertarikan
orang pada sesuatu, bahkan bisa dibisnisin. Entahlah, gue juga gak tau kenapa
nulis beginian, mungkin karena kebangun pagi-pagi dan otak gue penuh dengan hal-hal
random yang meminta untuk dituangkan
supaya space dalem otak gue lebih
lega.
Ini cuman pandangan gue aja, masalah
setuju atau enggak setuju ya terserah kalian. Semua orang punya prespektifnya
masing-masing dan gak ada yang salah dengan itu, selama reaksi mereka gak
berlebihan dan gak mengganggu kenyamanan orang lain gue rasa sah-sah aja.
Oke kayaknya segini aja, hahaha, udah
lama gak nulis di sini jadi gak jelas konsep tulisannya gimana, bodo amat ah,
mungkin kita bakalan ketemu lagi di postingan selanjutnya.
CIAOOOO~
0 comments:
Post a Comment