Saturday, April 22, 2017

Youtube, Ekslusif, dan 'Kamu'~

Di tengah-tengah fenomena VLOG yang lagi booming, gue malah tetep milih nulis untuk menyampaikan sesuatu. Padahal bisa dibilang jaman sekarang ini adalah jaman dimana kombinasi audio dan visual lebih mudah menarik atensi orang-orang, apalagi didukung koneksi internet yang makin mudah didapatkan. Mulai dari paketan kuota murah bergiga-giga sampe spot WIFI gratis atau berbayar yang makin menjamur. Dengan memanfaatkan hal itu orang-orang bisa mengakses segala sesuatu di dunia maya dan tentu, Youtube, portal berbagi video yang sekarang lagi happening banget di kalangan millenials.

Mencoba gak munafik, gue juga salah satu penikmat video-video di-Youtube. Mulai dari yang mengedukasi sampe cuman daily VLOG gak jelas. Tapi gue merasakan perbedaan yang signifikan mengenai pengalaman gue mantengin Youtube dari dulu hingga sekarang. Dulu, ketika akses internet masih cukup mahal (buat gue pribadi), nonton video di-Youtube adalah salah satu kemewahan tersendiri. Gue rela begadang cuman buat nungguin paket kuota malem aktif lalu mantengin beberapa video dari channel Youtube favorit gue. Pada waktu itu gue harus berhati-hati, gak boleh sampe terlalu asik karena kalo hal itu terjadi maka kuota gue bakalan abis dan itu artinya sebulan ke depan HP gue gak bakalan terkoneksi ke internet.

Semua berubah ketika gue kerja di warnet, ya, gue seorang OP di warnet punya temen, itung-itung nambah uang jajan sembari ngelarin skripsi. Ketika gue menjabat sebagai OP, pengalaman gue menyambangi Youtube berubah. Awalnya sih menarik, tapi lama-kelamaan semua makin membosankan. Kenapa gitu? Karena hampir setiap hari gue bisa akses itu website, mantengin puluhan atau mungkin ratusan video dari yang jelas sampe yang absurd tanpa harus khawatir akan paketan internet gue.

Youtube not interesting anymore for me.

Bahkan saking bosennya gue pernah mantengin tutorial make up yang notabene membuat kemaskulinan gue dipertanyakan. Kenapa gitu? Karena gue gak tau lagi mau nonton apaan!!

Kan banyak situs-situs streaming film masbro?

Emang iya, tapi gue bukan orang yang betah marathon film kecuali film tersebut emang film yang gue tunggu-tunggu. Pernah sekali pas lagi bosen gue paksain nonton film dan berakhir dengan gue yang ketiduran lalu uang shift jaga gue minus sehingga gue harus nombok pake uang sendiri. Brengsek kan?

Kenapa Youtube mulai membosankan? Bukan karena konten-konten yang ngebosenin atau jelek, Enggak. Setiap channel punya karakternya masing-masing, yah walaupun gue gak tau kalo daily VLOG itu termasuk karakter atau enggak, tapi gapapa, i don’t give a fuck about that.

Semua orang bebas mau bikin apa di Youtube begitu juga sebaliknya semua orang bebas mau milih bakal nonton apa di Youtube dan gue rasa semua orang juga bebas ingin berkomentar apa tentang Youtube. Adil kan? Tiap pihak punya kebebasannya sendiri.

Mungkin rasa bosan akan Youtube muncul dari dalem diri gue sendiri. Ya, gue kehilangan sesuatu, ekslusifitas. Penulisannya bener gak sih? Bodo ah. Youtube gak lagi ekslusif buat gue, semenjak jadi OP Youtube terlalu ‘murah’ terlalu gampang diakses sehingga seiring berjalannya waktu nilai kepuasannya berkurang. Berbeda ketika gue masih rela begadang nungguin paketan malem, Youtube begitu menarik karena berbagai macam halangan yang harus gue lewatin sebelum bisa mengakses portal berbagi video terbesar itu, butuh perjuangan lebih.

Ke-eksklusif-an emang salah satu nilai jual yang cukup penting. Ketika kita kesulitan mendapatkan sesuatu maka keinginan tersebut justru semakin besar dan keinginan tersebut bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan untuk mendatangkan pundi-pundi rupiah. Orang-orang punya kebanggaan sendiri ketika mendapatkan sesuatu yang eksklusif bahkan rela membayar lebih supaya mereka kelihatan lebih superior atau lebih beda aja dari yang lain. CD game limited edition, sepatu limited edition, penumbuh bulu limited edition, embel-embel ‘limited edition’ biasanya mampu menarik perhatian orang-orang tertentu. Kenapa? Karena barang tersebut susah di dapet dan gak semua orang bakal punya hal tersebut membuat kalian merasa ‘beda’ dari yang lain, dan beberapa orang suka itu bahkan sampe rela merogoh kocek lebih dalam.

Salah satu contoh mereka yang ‘menjual’ eksklusifitas adalah Girlband, oke mungkin bukan girlband (takut di-bully masbro~), salah satu idol group yang terkenal di indonesia, JKT48, mungkin bukan salah satunya, tapi satu-satunya, gak tau dah, gue gak tercelup terlalu dalam.

Grup ini menerapkan sistem yang berbeda dengan grup-grup lain yang sejenis. Wajar kalo ketika kita ketemu sama sosok public figure atau selebritis di jalan, kita bakalan minta foto ataupun sekedar tanda tangan sebagai kenang-kenangan, gue rasa sih wajar dan disitulah perbedaannya. Grup ini tidak memperbolehkan para anggotanya untuk sembarangan membubuhkan tanda tangan atau sekedar foto bareng dengan para fans mereka ketika berada di publik. Para fans pun dihimbau agar tidak melakukan hal tersebut, jikapun ada mungkin member yang bersangkutan akan menolak dengan halus. Untuk mendapatkan keistimewaan tersebut para fans harus membayar sejumlah uang agar mereka bisa berfoto dengan member favorit mereka, tentu aja bayarnya ke pihak manajemen dan ada tempat resmi untuk melakukan hal tersebut. Bahkan untuk bercengkrama atau sekedar salaman para fans juga harus dilakukan pada event tertentu, dengan merogoh kocek tentunya.

Apa ada yang kecewa atau marah?

Tentu, tapi hanya segelintir dan lama-kelamaan mereka sadar, toh memang dari awal grup tersebut dibentuk untuk jadi seperti itu.

Emang ada orang yang mau ngeluarin duit cuman untuk foto atau salaman?

Jelas ada lah, sistem ini secara gak langsung menciptakan sebuah hirarki dalam kelompok fans. Beberapa merasa lebih dekat, lebih superior hanya karena mereka merogoh kocek lebih dalam, melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh sesama fans dan beberapa orang senang akan hal itu. Tentu aja ada benefit lain yang didapatkan oleh orang-orang ini, jelas mereka lebih dikenal karena sering foto atau sering hadir di event-event, yang mungkin merupakan tujuan atau hanya sekedar kepuasan tersendiri bagi orang tersebut. Sebuah privilage yang gak semua fans bisa dapetin.

Terus solusinya gimana?

Solusi? Emang ini masalah? Ya enggaklah, kan emang dari awal strategi bisnis mereka kayak gitu, menjual ekslusifitas, jangan baperan aja jadi orang.

Yah, itulah mungkin pandangan gue tentang gimana ke-ekslusif-an bisa berpengaruh besar terhadap ketertarikan orang pada sesuatu, bahkan bisa dibisnisin. Entahlah, gue juga gak tau kenapa nulis beginian, mungkin karena kebangun pagi-pagi dan otak gue penuh dengan hal-hal random yang meminta untuk dituangkan supaya space dalem otak gue lebih lega.

Ini cuman pandangan gue aja, masalah setuju atau enggak setuju ya terserah kalian. Semua orang punya prespektifnya masing-masing dan gak ada yang salah dengan itu, selama reaksi mereka gak berlebihan dan gak mengganggu kenyamanan orang lain gue rasa sah-sah aja.

Oke kayaknya segini aja, hahaha, udah lama gak nulis di sini jadi gak jelas konsep tulisannya gimana, bodo amat ah, mungkin kita bakalan ketemu lagi di postingan selanjutnya.


CIAOOOO~

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com