Tuesday, October 27, 2015
Monday, October 5, 2015
Good Thing or Bad Thing ?
Ahhhh~ akhirnya tiba-tiba dapet bahan buat
bikin postingan di sini lagi tepat jam 2:46 dini hari, wadeplay. Sebenernya bukan
postingan yang berat sih (emang sejak kapan ada postingan yang berat di blog lu
tong ?) Cuma sebuah teori ‘gila’ yang biasanya selalu hadir di jam-jam segini
hehehe. Ini bukan teori gila pertama sih, cuman kayaknya teori ini emang
sedikit mendapat perhatian khusus dari otak kiri gue, sehingga ketika
dianalisis ternyata berkesinambungan juga dengan hal-hal yang biasa dikerjakan
menggunakan otak kanan gue, oleh karena itu gue mutusin untuk menuangkan
semuanya ke dalam sebuah postingan ? bingung kan elu elu pada ? bagus, emang
itu tujuannya.
Sebelumnya untuk menjaga kenyamanan dan
kesejahteraan para pembaca, gue mau ngingetin kalo gue hampir menggunakan
kode-kode kira-kira 60-75% untuk postingan kali ini. ya entah kenapa, gue
merasa kalo ada baiknya beberapa hal yang pengen gue sampaikan enggak disajikan
dengan bahasa yang terlalu frontal (to the point) yah jaga-jaga aja, mana tau
ada beberapa orang diluar sana yang kebetulan nyasar ke blog gue yang tak
seberapa ini agak sedikit kurang bisa ‘menerima’ isi dari postingan kali ini
dan ujungnya dia melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Well, let’s start.
Kalo kalian perhatiin pasti ada yang berbeda
dari postingan gue belakangan ini. bukan soal konten, tapi lebih ke kerapian
struktur penulisan. Kalo kalian pengunjung setia blog gue pasti udah pada bisa
bedain gimana ‘hancurnya’ struktur tulisan gue pada waktu dulu dengan sekarang.
Itu semua karena gue udah mulai terjerumus (ceilaaah terjerumus) dalam dunia
tulis menulis, dalam hal ini menulis cerita fiksi.
Karena dunia tulis-menulis tersebut akhirnya
gue sadar jika sebenernya pelajaran bahasa indonesia yang dulu gue anggap
sebagai mata pelajaran yang paling useless (bayangin aja, dari lahir udah bisa
bahasa indonesia masa iya harus belajar lagi ?) kini berubah menjadi mata
pelajaran yang paling berguna untuk mendukung salah satu kegiatan gue ini,
menulis.
“Ini
sebenernya mau bahas apa sih ? tadi katanya teori, tapi sekarang malah belajar
bahasa indonesia.”
Hahaha, maap-maap, gue emang susah fokus
soalnya. oke langsung aja ya.
Kemarin pagi atau … eummm … ah gue lupa kapan
tepatnya tapi yang jelas baru-baru ini, perhatian gue tersedot sama ‘comeback’-nya ‘sesuatu’. Sesuatu yang
merupakan batu loncatan pertama dalam kegiatan tulis-menulis fiksi. Bisa dibilang
‘sesuatu’ ini sempet hilang secara misterius, tak berbekas, hingga menyebabkan
beberapa ‘penggemarnya’ sedikit bertanya tanya, ‘apa sih yang sebenarnya terjadi
?’.
Well, bagi gue sih itu bukan masalah yang
besar, toh gue cuma sebentar berkerja sama dengan mereka, yahhh sekitar 2-3
cerita doang lah, that’s it. Namun bagi para ‘penggemarnya’ hal itu merupakan
momok yang sangat menakutkan (Lebay ah), gimana enggak, its like, ada bagian
yang hilang dari diri mereka, mereka kehilangan sebuah tempat untuk show-off,
mereka kehilangan tempat untuk memanjakan imajinasi mereka melalui barisan
kata-kata yang tersusun secara sistematis dan terstruktur rapi, mereka
kehilangan sebuah ‘rumah’ (udah mulai keliatan kan perbedaan tulisan gue dulu
dan sekarang hehehe).
Awalnya gue juga penasaran sih jadi mulai lah
gue iseng-iseng mencari kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi. setelah
usaha keras, ya karena ada tagline yang bilang kalo usaha keras itu tidak akan
menghianati (beberapa pasti ada yang tau tagline ini) akhirnya sampailah gue
pada sebuah kesimpulan, gue menyerah hahaha. Ya gue menyerah, semua usaha pencarian
gue gak mendapatkan apapun, ‘sesuatu’ tersebut bener-bener hilang tanpa jejak,
seolah-olah ambles ke dalam inti
bumi.
Perlahan-lahan kepanikan itu mulai reda, para
‘penggemarnya’ sudah mulai bisa move on, dan gue pun udah mulai gak mikirin
misteri hilangnya ‘sesuatu’ tersebut lagi, biarlah ‘dia’ tenang di alam sana
ahahhaa.
Seiring berjalannya waktu gue akhirnya
tergabung dengan sekumpulan orang-orang yang bernasib sama seperti gue, kere,
jomblo dan berantakan, ahaha becanda kok. Senasib dalam arti senang mengukir
kata-kata berdasarkan imajinasi yang dihasilkan oleh otak. Bla bla bla, setelah
kita sharing-sharing, cerita-cerita ngalor-ngidul dan tiba-tiba tercetuslah
sebuah ide untuk melahirkan ‘sesuatu’, sebuah lapak, sebuah tempat untuk show
off, sebuah rumah.
Setelah memasuki proses diskusi yang panjang
dan alot, akhirnya lahirlah ‘sesuatu’ tersebut hahahaha.
“Trus
yang jadi masalah apa sih ? daritadi muter-muter mulu, udah kodenya gak ada
yang genah lagi.”
Santai sob, kalian bisa mampir ke wikipedia
kalo emang pengen cari sesuatu yang punya ‘value’. Karena di sini kalian gak
bakalan dapet hal-hal yang yah bisa dibilang berguna mungkin, kecuali kalo
kalian mau sedikit berpikir di luar kebiasaan hoohohoh *Plak*.
Ada beberapa hal yang gue pikirin semenjak
kembalinya ‘sesuatu’ tersebut, yah beberapa berhubungan dengan ‘rumah’ baru
yang telah berhasil gue dan temen-temen yang lain bikin.
Sebenernya kalo diliat dari kacamata seorang ‘solo
player’ kayak gue, gak ada masalah yang berarti, justru ini menjadi sebuah
momen yang bagus, makin banyak tempat untuk ‘show off’, gak perlu susah-susah
koar-koar sana sini agar keberadaan kita di sadari (beberapa juga pasti
familiar dengan tagline ini) yang harus dilakukan Cuma menuangkan imajinasi di
lembar kosong trus kirim, selesai.
Tapi gimana kalo dari diliat dari kacamata
orang yang sudah melahirkan ‘sesuatu’ dengan konten yang sama ? jelas ini
sebuah masalah, terlebih ‘sesuatu’ tersebut tidak berjalan dengan baik dan
masih banyak hal yang harus di benahi, this is a nightmare dude (lagi lagi
lebay).
Kenapa masalah ? ya beberapa anggota
perkumpulan gue ini sudah cukup lama bekerjasama dengan ‘sesuatu’ yang baru
bangkit dari tidur panjangnya, kemungkinan besar mereka akan kembali menjalin
kerjasama dan sedikit mengesampingkan beberapa hal mengenai ‘rumah’ yang baru.
Ada dua poin penting kenapa gue bilang
seperti itu. 1) Jelas ‘sesuatu’ yang baru bangkit itu lebih terkenal, dan lebih
punya nama, 2) ‘rumah’ baru ini belum terlalu di kenal, konten yang ditawarkan
belum begitu bervariasi dan manajemennya belum baik.
Jadi kemungkinan terburuknya, si ‘rumah’ baru
bakalan terbengkalai karena di tinggal oleh orang-orang yang lebih memilih
untuk ‘show off’ di tempat lain. Dan gue gak mau hal itu terjadi. yah kalaupun
hal itu harut terjadi hal itu terjadi ketika gue udah mengusahakan yang
terbaik, jadi gue gak mau ‘kalah’ tanpa perlawanan hahha.
Gue bukan tipe orang yang persuasif, jadi
dalam hal ini gue akan mulai perubahan dari diri gue. Ya kalo misalnya ada
beberapa hal yang kurang pas selama ini, bakalan gue coba untuk koreksi dan
perbaiki diri.
Tapi pada akhirnya, semua itu gak akan
berhasil kalo cuman gue yang berjuang sendiri, kalian juga harus punya andil,
iya kalian, kalian yang lagi baca postingan ini sambil ngelapin iler yang netes
pake baju kotor.
“Gimana
caranya ? *ngelap iler pake baju kotor*”
Di sana kalian bakalan punya sedikit ‘hal’
untuk merangsang imajinasi kalian (yang seneng ngayal pasti suka deh) dan di
link yang satu lagi kalian bisa tanya apa aja, bisa juga request (lagu,
tulisan, jodoh, dll), curhat, minta dicomblangin, atau mungkin sekedar
sharing-sharing doang, semua bisa, soalnya
‘penunggunya’ multi-talented banget.
Kayaknya cuman itu deh beberapa hal yang
sedikit mengganggu otak gue, wah udah jam 3:42, untung kelas gue mulainya jam 1
siang hahaha. Oke terima kasih buat kalian yang udah baca postingan gue kali
ini, semoga setidaknya bisa membuat kalian terhibur, minimal senyum dikit lah
hahaha.
Maaf kalo ada salah-salah kata, kalo ada
beberapa ‘kode’ yang gak dimengerti harap maklum aja. Dan kalo ada beberapa
kata yang typo mohon jangan dipermasalahin ya, jam segini kalo mau direvisi
lagi mau kapan kelarnya hahaha.
See ya~
Tuesday, September 29, 2015
Kisah Seorang Pemalas
Hai,
bolehkah aku menceritakan sebuah kisah ? bukan sebuah kisah komedi yang bisa
membuat kalian tertawa terpingkal-pingkal, bukan juga kisah cinta romantis yang
membuat kalian terharu, kisah yang menginspirasi ? hahaha mendekati pun tidak,
horor ? selain cara penulisan yang ‘mengerikan’ kurasa tidak ada lagi yang bisa
membuat kalian takut saat membaca kisah ini. Bagaimana ? masih tertarik ingin
membaca ? jika tidak, kalian bisa segera berhenti saat ini juga, tetapi apabila kalian tertarik maka mari kita mulai kisah 'aneh' ini. Oh
iya, aku tidak bisa menjanjikan apapun pada kalian selain waktu yang terbuang
untuk membaca tulisan ini hahaha.
Kisah
seorang pemalas.
Bisa dibilang aku kenal dengan seseorang, seorang dengan
sifat yang bisa dibilang tidak cukup baik. Malas, itulah sifat yang ada
dirinya. Faktanya memang bukan hanya dia yang memiliki sifat seperti itu.
Banyak orang di belahan dunia ini yang punya sifat seperti dia, namun aku tidak
mengenal mereka, oleh karena itu aku memilih dia, Si Tuan pemalas yang kukenal.
Kisah seorang pemalas yang tidak menarik bagi orang
lain, tapi menarik bagiku. Seorang pemalas yang kerjaannya hanya bermimpi,
tanpa ada usaha untuk me-realisasi-kan mimpinya. Seorang pemalas yang sangat
gemar tidur, membiarkan waktu lewat begitu saja, tanpa melakukan apapun.
“Maklum, namanya juga pemalas.”
Kata-kata yang sering keluar dari mulutnya, sebuah
pembelaan atas setiap tanggung jawab yang dia tinggalkan. Dia selalu punya
alasan untuk menunda apa yang seharusnya dia kerjakan. Kuliah ? menulis ? mandi
? bahkan makanpun kadang dia lupakan. Bukan karena tidak butuh ilmu, bukan
karena dia tidak senang menulis, bukan karena dia senang dengan bau badannya,
bukan karena dia tidak lapar, semua itu dia lakukan hanya karena dia terlalu
malas untuk menggerakkan badannya. “Tidak bisa kuraih, berarti aku tidak
membutuhkannya.” Itulah salah satu prinsip hidupnya.
Tapi aku sadar, setiap orang punya sisi baik. Siapa yang
mengira jika dia bisa menjadi orang yang sangat serius ketika menyangkut hal
hal yang dia sukai. Membaca ? meskipun hanya sebuah komik ataupun sekedar
artikel di internet, tapi dia selalu mampu mengingat apa yang dia baca. Bermain
game ? kamu tidak akan mengira dia seorang pemalas saat melihat dia sedang
bermain game. Menulis ? kamu akan terkejut saat membaca beberapa tulisan yang
dia buat, tidak akan menyangka jika seseorang seperti dia bisa membuat tulisan
seperti itu, tidak bisa dibilang bagus, namun cukup bisa menyamarkan kesan
pemalas dari dirinya.
Kisah seorang pemalas yang lebih memilih diam di rumah
saat teman-teman seumurannya sibuk menjelajah indahnya dunia. Seorang pemalas
yang lebih memilih tatanan rambut berantakan dibandingkan dengan apa yang
sedang trend saat ini. Seorang pemalas yang lebih memilih diam dan menikmati ‘dunianya’
dibanding harus mengikuti perkembangan zaman.
Kisah seorang pemalas yang selalu malu bertanya, oleh
sebab itu dia selalu mencoba mencari tahu segala sesuatunya sendiri. Dia yang
selalu mengambil kesimpulan-kesimpulan sendiri. Dia yang selalu mencari jawaban
akan hal hal yang dia tidak tahu, bukan untuk dibanggakan di depan orang
banyak, tetapi hanya sekedar memuaskan rasa ingin tahunya.
Sebagai orang yang mengenalnya, aku ingin melihat Tuan Pemalas ini jadi lebih baik. Bukan maksudku mengatakan kalau dia yang sekarang
ini tidak baik, hanya saja menjadi seorang yang lebih baik lagi. Aku tau dia
punya potensi, aku tau dia sebenarnya ingin melakukan banyak hal, aku tau jika
dia mampu merealisasikan mimpinya, hanya saja ‘malas’ selalu jadi senjata
andalannya untuk menunda semua itu.
Hei, maukah kalian membantuku ? jika kalian bertemu
dengannya cobalah bicara padanya, bantu dia terbebas dari sifat yang
membelenggunya. Baiklah kukira itu mustahil, tapi setidaknya bantu dia untuk
mengurangi rasa malas yang selalu menyelimutinya. Tidak perlu takut, mungkin
memang dia terlihat sombong, tapi itu hanya mekanisme pertahanan diri yang dia
buat untuk menghindari hal hal yang dia inginkan.
Maafkan jika kisah ini membuat kalian bosan, ya aku
bukan orang yang mampu merangkai kata-kata dengan baik. Lebih tepatnya aku
malas melakukan itu. maaf bila ada penulisan yang salah karena aku juga malas
untuk merevisi kembali kisah ini. Jadi maaf bila waktu kalian terbuang sia sia.
Ghifari Guntur, Si Pemalas.
Bagaimana ?
bukan kisah yang menarik bukan ? ahahah. Aku sudah memperingatkannya dari awal,
tapi untuk kalian yang sudah membaca sampai akhir, aku ucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya. Yap inilah akhirnya, akhir dari kisah yang tidak menarik
ini, tapi tenang mungkin akan ada kisah-kisah lain yang bisa kuceritakan. Kapan
? entahlah, aku juga tidak tau, tapi maukah kalian menunggu ?.
Hei hoooo,
gila, ini blog udah berdebu, udah lama gak bikin postingan di sini ahahaha. Maaf
ya kalo postingan kali ini agak gaje, kebetulan gue lagi stuck, dan tiba tiba
kepikiran pengen nulis lagi di blog. Sebenernya tulisan ini cuman buat seneng
seneng aja, yah itung-itung ngurangin sedikit beban di otak.
Makasih buat
kalian yang masih setia mampir di blog gue. Gue gak tau mau ngomong apa tapi
yang jelas gue sangat-sangat berterima kasih. hmmm mungkin gue bakalan aktif
lagi ngeblog, soalnya template blognya udah baru loh hahahha.
Oke kayaknya
itu aja untuk postingan kali ini, ketemu lagi di postingan gw selanjutnya. See you
next time~.
Monday, March 9, 2015
Rumah
Heyhoo akhirnya setelah mengumpulkan segenap niat dan semangat postingan pertama di tahun ini rampung juga hohoho. Yah meskipun banyak banget kendalanya, mulai dari susah ngembangin ide, males, dan males, terus males lagi dan kendala terbesarnya adalah emm.... yak males.
Oke kali ini gw pengen sedikit ngebahas tentang rumah. Kenapa ? Gw bikin postingan tentang rumah karena kebetulan saat ini gw sedang berada jauh dari rumah atau lebih tepatnya gw lagi ada di ibu kota republik indonesia, jakarta.
Gw sedang berada disebuah kota impian, dimana semuanya serba ada, dimana merupakan kota yang paling maju (menurut pandangan gw), kota yang menjadi destinasi para perantau yang ingin menguji peruntungan mereka untuk memperbaiki nasib.
Sebenernya ini bukan pertama kalinya gw di jakarta, secara gw lahir disini, tapi keadaan ibu kota sungguh jauh berbeda sekarang. Ya tentu aja toh udah hampir 15 tahun gw ga pernah menginjakkan kaki gw disini.
